asmaul husna

Photobucket

Jumat, 21 Mei 2010

Semangat Kawan, Allah Bersama Kita

Semangat Kawan, Allah Bersama Kita


Oleh: Burhan Sodiq
Dunia pergerakan memang sedang mempersiapkan kader-kader terbaik yang akan menjunjung tinggi kalimat Allah di muka bumi ini. Ikatan mereka hanyalah ikatan yang satu yaitu akidah yang sama, kalimat tauhid yang sama, yang akan membuat mereka lebih powerfull dari sebelumnya.
Kader-kader inilah nantinya yang akan mengembanglan semangat dakwah dan jihad di dunia ini. Bukan hanya Indonesia, karena cita-cita ini sangatlah kecil bila hanya diukur dengan sebuah Indonesia. Islam harus jaya di seluruh dunia, dan menyejahterakan penghuninya dengan syariah yang nyata.
Kader-kader ini tumbuh terus menerus. Semakin lama semakin berkembang, merambah ke seantero negeri dengan semangat yang sama, semangat perubahan ke arah yang lebih baik. Akhlak mereka baik, tutur kata mereka juga baik. Inilah modal yang akan membuat mereka bisa menjadi agen pengubah ke depan.
Mereka terdiri dari berbagi harakah yang ada di Indonesia. Saling menguatkan dan memberi dukungan satu sama lain. Mereka tidak perlu saling serang, saling sikut, saling jegal hanya untuk berebut massa. Toh nanti larinya juga sama, menuju satu tujuan yang sama, lalu kenapa harus saling rebut. Mereka harus mampu menjaga kemurnian perjuangan, bahwa berjuang bukan untuk massa yang besar. Tetapi untuk mencari ridha Allah ta’ala dan menjayakan agamaNya di muka bumi ini.
Seharusnya mereka saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Saling memotivasi dan melengkapi, bukan malah saling menggembosi. Bergandeng tangan menjalankan program bersama yang efeknya bisa sangat massive. Bermusyawarah dengan semangat mencari solusi, bukan semangat untuk saling menghabisi opini.
Inilah kerinduan yang sudah lama dinantikan. Melihat satu kesatuan barisan kader-kader pilihan, menggenggam, ‘bara’ menjadi generasi ghuraba yang rela berkorban untuk Allah Sang Rahman. Semoga Allah memilih kita menjadi kader-kader pilihan itu. Menginfakkan harta dan mewakafkan jiwa untuk berjuang demi Islam yang tercinta. Semangatlah kawan, innallah ma’ana…
Bersiaplah Untuk Dipilih
Kini saatnya menyiapkan hati untuk mau mengerti, bahwa perjuangan akan selalu membutuhkan keseriusan. Serius mencari ilmu dan serius mengamalkannya. Kini pula saatnya bagi jiwa untuk mau berbuat untuk sesama. Berkorban untuk saudaranya dengan hati yang tulus tanpa merasa rugi dan nestapa.

Kini saatnya merelakan setiap apa yang kita punya. Menyisihkan untuk kebaikan amal yang sedang kita rintis bersama. Menganyunkan langkah, menguatkan genggaman tangan maju ke medan laga. Pertempuran yang belum selesai dan perjuangan yang masih sangat lama jalannya.

Hari-hari kita adalah hari hari yang harus kita maknai dengan kebaikan dan kesungguhan. Detik demi detik harus kita bayar dengan amal shalih yang tanpa pupus. Torehkan amal terbaik dan bekerjasamalah. Hilangkan rasa egoisme, fanatisme kelompok, ashobiyah, kesukuan, atau bentuk-bentuk pengkerdilan ukhuwah lainnya. Peganglah tali Allah sekuat tenaga dengan gigi geraham kita. Niscaya Allah akan membalas amal kita dengan pahala yang besar dan memuaskan. Sekali lagi kawan, Allah bersama kita!
[muslimdaily.net]

Jejak Syariah Phobia Dalam Pemikiran Jawa

Jejak Syariah Phobia Dalam Pemikiran Jawa



(TELAAH TERHADAP SERAT DARMA GANDUL)
PENDAHULUAN
Jawa adalah sebuah peradaban, walaupun belum diakui secara aklamasi oleh dunia. Kehidupan di Jawa telah dimulai jauh sebelum kedatangan Hindhu.[1] Jawa dalam kemandirian peradabannya merupakan sebuah manifestasi sistem yang sukar ditundukkan oleh pengaruh yang berasal dari luar. Hindhu sendiri misalnya, tidak sepenuhnya agama yang berasal dari India tersebut mampu mengubah ‘sifat bangsa’ Jawa yang egaliter. Sistem Kasta[2] dalam Hindhu tidak sepenuhnya merasuk dalam pemikiran Jawa. Bahkan sistem Kasta tersebut terdekonstruksi oleh pola pikir jawa dan mengalami proses jawanisasi.[3] Maka kemudian terbentuklah ajaran agama Hindhu menjadi ‘Hindhu kejawen’.
Di Jawa juga terdapat sejumlah aliran kebatinan yang tumbuh dan berkembang. Di antara banyak aliran kebatinan tersebut, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pemikiran Jawa banyak dipengaruhi oleh beberapa kitab antara lain Darmagandul, Gatoloco, Hidayat Jati, dan Serat Centhini. Dalam hal ini penulis akan coba untuk membahas buku darmagandul sebab tulisan tersebut menceritakan tentang ketidakpuasan para pendukung Majapahit melihat hancurnya kerajaan Hindhu tersebut dan digantikan oleh kerajaan Islam. Perlu diketahui bahwa buku Darmagandul menyatakan bahwa seolah-olah rakyat Jawa pada masa itu, termasuk kerajaan majapahit dan para penguasanya, adalah penganut agama Budha. Tentu saja keterangan ini berbeda dengan versi sejarah yang kita ketahui yang menyebutkan bahwa Majapahit adalah kerajaan Hindhu.
Buku Darmagandul merupakan tulisan yang sebagian besar mengisahkan tentang keruntuhan kerajaan Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak. Dalam versi Darmagandul Majapahit runtuh akibat serangan dari Adipati Demak yang bernama Raden Patah. Sebenarnya Raden Patah masih merupakan putra Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir, dengan seorang putri dari China. Namun, menurut buku Darmagandul, para ulama yang dipimpin sunan Giri dan Sunan Benang (Bonang) yang tergabung dalam majlis dakwah wali sanga, memprovokasi Raden Patah agar merebut tahta kerajaan dari ayahnya yang masih kafir, karena memeluk agama Budha. Bujukan para wali berhasil, sehingga pada akhirnya Majapahit dapat dibumi hanguskan dan Prabu Brawijaya berhasil meloloskan diri. Buku darmagandul juga mengupas tentang ‘budi buruk’ para ulama yang oleh Prabu Brawijaya diberi kebebasan untuk berdakwah diwilayah Majapahit, namun pada saat Islam telah menjadi besar mereka berbalik melawan Majapahit dan melupakan budi baik sang raja Brawijaya. Hal ini ditunjukkan dengan ekspresi penulis Darmagandul ketika mengartikan wali adalah walikan (kebalikan). Artinya diberi kebaikan namun membalas dengan keburukan.[4]
Penulis menggunakan buku Darmagandul terbitan Toko Buku “Sadu-Budi” Solo. Buku tersebut merupakan cetakan keempat dengan angka tahun 1959 yang ditampilkan dalam bentuk gancaran dengan Bahasa Jawa Ngoko.[5] Buku tersebut ditulis berdasarkan kitab induk yang dimiliki oleh K.R.T. Tandanagara. Buku Darmagandul tersebut diberi keterangan sebagai buku yang mengisahkan tentang cerita runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak yang dimulai sejak orang Jawa meninggalkan agama Budha dan beralih menganut agama Islam.
PERMASALAHAN
Secara umum buku Darmagandul tidak memberikan penjelasan tentang identitas instrinsik berupa nama penulis (anoname) dan masa kepenulisan. Selain itu buku tersebut menampilkan diri sebagai salah satu tulisan yang menampilkan cerita sejarah. Sebagaiman telah menjadi pandangan umum, sejarah adalah fakta tunggal yang bisa ditafsirkan berdasarkan motif dan rasionalisasi tertentu. Padahal kajian sejarah membutuhkan kepastian sumber sejarah atau setidaknya sebuah bentuk otoritas tertentu. Maka penulis akan mencoba mengkaji buku Darmagandul tersebut berdasarkan batu uji sebagai berikut:
  1. Siapa penulis buku Darmagandul dan kapan masa penulisannya ?
  2. Bagaimana kisah runtuhnya kerajaan majapahit dan Berdirinya Demak ?
  3. Apa dan bagaimana intisari ajaran serat Darma gandul ?
MEMAHAMI IDENTITAS PENULIS DARMOGANDUL
Kitab Darmagandul (sering ditulis dengan Darmo Gandul atau Darma Gandhul atau Darmo Gandhul) merupakan sebuah buku kontroversial yang berusaha memojokkan agama Islam dan mengembalikan suku Jawa kepada kepercayaan nenek moyangnya yaitu agama Budha. Isinya secara dominan mengisahkan tentang kehancuran dan keruntuhan majapahit akibat serangan Demak dan Politik ‘kotor’ para wali. Sedangkan isinya yang lain merupakan bentuk pengajaran beberapa falsafah dan pemikiran ‘ilmu kehidupan’ dari seorang guru bernama Kyai Kalamwadi[6] dengan muridnya yang bernama Darmagandul.
Identitas pengarang Serat Darmagandul tidak jelas. Demikian juga latar belakang dan masa penulisannya. Sebagian besar kalangan meyakini bahwa Serat Darmagandul ditulis pada masa peralihan antara runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak. Jika asumsi ini benar, maka latar belakang penulisan Serat Darmagandul bisa ditebak yaitu kegundahan hati penulis Serat melihat banyaknya rakyat Majapahit yang memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Budha secara masal. Namun jika asumsi tersebut salah maka identitas penulis Darmagandul tetap bisa diidentifikasi sebagai oknum yang menderita islamophobia dan sekaligus menunjukkan kebencian terhadap eksistensi Islam.
Secara umum buku Darmagandul banyak memiliki kesalahan data dalam mengungkapkan fakta sejarah. Oleh karena itu sulit dipastikan bahwa buku tersebut benar-benar ditulis pada masa peralihan antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak. Bukti lebih kuat justru menekankan bahwa buku tersebut di tulis di era belakangan pasca penjajahan bangsa Eropa di Bumi Nusantara. Oleh karena itu cerita sejarah dalam serat tersebut boleh diabaikan dari kedudukannya sebagai sebuah fakta.
Misalnya diceritakan bahwa dalam sebuah peperangan, tentara Demak yang terdiri dari orang-orang Giri mengalami kekalahan kerana tidak mampu menghadapi tentara Majapahit yang menggunakan bedhil (senapan) dan mimis (peluru). Hal tersebut diungkapkan sebagai berikut :
wadya Majapahit ambedili, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis, …[7]
Dari kalimat di atas, sulit dipahami bahwa tentara Majapahit telah mengenal senjata api berupa senapan. Sedangkan fakta sejarahnya, senapan dengan istilah bedil, baru dikenal oleh orang Jawa pasca kedatangan bangsa Eropa di bumi Nusantara. Maka jelas bahwa buku Darmagandul baru ditulis pasca kedatangan bangsa Eropa dan bukan pada masa peralihan antara kejatuhan Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak sebagaimana diyakini sebagian kalangan.
Selain itu buku ini juga telah menceritakan tentang hubungan antara para auliya’ dari berbagai negeri dengan pohon pengetahuan dalam bentuk perbandingan. Hal tersebut dinyatakan sebagai berikut :
Sastra warna-warna paringane Kang Maha Kawasa, iku wajib dipangan, supaya sugih pangreten lan kaelingan, mung wong kang ora ngerti sastra paring Gusti Allah, mesti ora ngerti marang wangsit. Auliya’ Gong Cu kumentus niru sastra tulisan paring Gusti Allah, nanging panggawene ora bisa, sastrane unine kurang, dadi pelon, para auliya panggawene sastra dipatoki cacahe, mung aksara Cina kang akeh banget cacahe, nanging unine pelo, amarga Auliya kang nganggit kesusu mangan woh kawruh, ing mangka iya kudu mangan woh wit Budi, Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa, ewadene meksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa, anggayuh kang dudu wajibe, kesusu tanpa panglulu nganggit aksara kang tanpa etungan cacahe, jenenge sastra godhong, godhonge wit budhi lan wit kawruh, dipethik saka satitik, ditata dikumpulake, banjur dianggit kanggo sastra, mulane aksarane nganti ewon, Auliya China kesiku, amarga arep gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa enggone mangan woh Budi nganti wareg, mula enggone nganggit aksara sanadyan ora pati akeh cacahe, nanging wis bisa nyukupi, sarta unine ora pelo. Auliya Walanda enggone mangan woh wit kawruh uga ngati wareg, dene enggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Auliya Arab enggone mangan woh wit Kuldi akeh banget. Dene enggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah dadine saka sabda, wujude dadi dewe, mulane unine iya cetha, satrane ora ana kang padha.[8]
Perbandingan dalam kategori sastra dan jumlah aksara antar bangsa kemudian digunakan untuk menetukan harkat dan martabat serta ‘ketinggian’ pengetahuan dan budi, jelas merupakan ide yang ahistoris. Aksara Jawa dalam kenyataan yang sebenarnya tidak cukup baik untuk menuliskan semua huruf yang bisa dilafalkan melalui suara. Sebagai contoh, dalam kaidah penulisan huruf Jawa terdapat konsep aksara swara dan aksara rekan. Aksara swara adalah huruf yang digunakan untuk menuliskan huruf vokal di awal kata yang digunakan pada kata-kata yang berasal dari manca, seperti pada kata Allah, Eropah, Umar, dan lain sebagainya. Sedangkan aksara rekan adalah huruf-huruf yang digunakan untuk menuliskan pelafalan huruf manca yang tidak terdapat dalam aksara Jawa,[9] seperti za, fa, gha, kha, dan dza.
Selain itu kata ‘Auliya Walanda’ menunjukkan bahwa Serat Darma Gandul ditulis pada masa atau pasca penjajahan Bangsa Belanda. Kata Walanda yang berarti Belanda (sebutan untuk Netherland dari bangsa Indonesia) tidak mungkin dikenal pada masa peralihan antara Majapahit dan Demak. Maka teori masa penulisan yang menyebutkan, antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak, dengan demikian jelas terbantahkan.
Buku Darmagandul seringkali menggunakan frase wit kawruh yang bermakna pohon pengetahuan. Idiom ‘pohon pengetahuan’ bukanlah kata-kata yang wajar dalam nalar Jawa. Falsafah Jawa lebih sering menampilkan kata-kata seperti banyu bening (air bening), banyu penguripan (air penghidupan), cahya, sunar, pepadhang, dan berbagai frase yang melibatkan air atau identik dengan cahaya, bukannya pohon semacam pohon pengetahuan. Penggunaaan kata pohon (wit atau taru) secara simbolis, dalam pemikiran Jawa, umumnya digunakan untuk menggambarkan kebijaksanaan, pengayoman, dan beberapa hal yang identik dengan kewibawaan penguasa. Jika dirunut kepada ajaran Budha sekalipun tidak akan dapat ditemukan ajaran yang identik dengan pohon pengetahuan. Pohon Bodhi, dalam ajaran Budha, yang dianggap sebagai pohon dimana Sidharta Gautama menerima ilham di bawahnya, secara harfiah lebih mudah dimaknai sebagai pohon penerangan agung atau kesadaran yang sempurna[10] atau ilham[11] atau pencerahan dan bukannya pengetahuan. Lantas dari mana ide tentang pohon pengetahuan tersebut bersumber ? Dari penggalan di bawah ini, ide tentang pohon pengetahuan akan dapat dilacak.
Darmogandul matur, nyuwun diterangake bab enggone Nabi Adam lan Babu Kawa pada kesiku dening Pangeran, sabab saka enggone padha dhahar wohe kayu kawruh kang ditandur ana satengahing taman firdaus. Ana maneh kitab kang nerangake kang didhahar Nabi Adan lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun diterangake, yen ing kitab Jawa diceritaake kepriye, kang nyebutake kok mung kitab Arab lan kitabe wong Srani ”.[12]
Ide tentang Pohon Pengetahuan dalam Serat Darmagandul, tidak bisa diingkari, dapat dilacak ke dalam pemikiran kekristenan. Hal ini dapat ditinjau dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Kejadian 2 : 16-17 sebagai berikut :
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,[13]
tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”[14]
Ide pohon pengetahuan dalam dalam Kitab Perjanjian Lama tersebut seolah-olah ditolak dengan kalimat dalam Darmogandul sebagai berikut :… Yen Kitab Jawa ora nyebutake mangkana[15] (maksudnya kisah Pohon pengetahuan atau Pohon Kuldi) ”. Akan tetapi ide-ide tentang pohon pengetahuan dalam Perjanjian Lama tersebut dalam berbagai tempat justru diakomodasi oleh serat Darma Gandul. Pada saat yang bersamaan terjadi miskonsepsi dalam buku Darmogandul tentang penilaiannya terhadap “Pohon Kuldi” dalam pandangan Islam. Pohon Kuldi (syajaratul khuldi) yang bermakna pohon kekekalan pada hakikatnya adalah upaya pendefinisian yang dilakukan oleh Iblis terhadap pohon yang tumbuh di jannah dimana Allah melarang Adam untuk mendekatinya. Dengan demikian nama pohon Kuldi dalam pandangan Islam bukan merupakan propername haqiqi yang dikenal dalam konsep Islam, namun secara substansial maupun aksi merupakan bentuk kekejian dan pengelabuhan Iblis terhadap Adam.[16]
Dalam beberapa tempat, penulis Darmogandul nampaknya lebih menguasai doktrin kekristenan dibandingkan ajaran Islam dan Budha,[17] dalam hal ini yang coba dibelanya. Bahkan penulis Darmogandul memiliki itikad untuk menampilkan bahwa agama Nashrani lebih memiliki keunggulan dibandingkan agama-agama lainnya. Motif ini dapat ditelisik dimana, agama lain dalam hal ini Islam, senantiasa ditempatkan dalam image negatif. Sementara nashrani ditempatkan secara positif dalam gambaran sebagai berikut :
“… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora naganggo nembah brahala, mung nembah marang Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, mangkana kang kasebut ing kitab Ambiya.”[18]
Dalam buku Darmagandul juga terdapat cerita tentang salah satu putra Nabi Dawud yang bernafsu untuk menggantikan kekuasaan ayahnya. Sang anak lantas melakukan kudeta (coup d’etat). Namun Nabi Dawud berhasil merebut kembali tahtanya dan sang anak kemudian melrikan diri dan tewas dengan kepala tersangkut di pohon saat menunggang kuda. Cerita tersebut dijabarkan sebagai berikut :
…carita tanah Mesir, panjenengane Kanjeng Nabi Dawud, putrane anggege keprabone rama, Nabi dawud nganti kengser saka nagara, putrane banjur sumilih jumeneng nata, ora lawas Nabi Dawud saged wangsul ngrebut negarane. Putrane nunggang jaran mlayu menyang alas, jaranae ambandang kecantol-cantol kayu, putrane Nabi Dawud sirahe kecantol kayu, ngati potol gumantung ana ing kayu, iya iku kang di arani kukuming Allah.[19]
Cerita tentang kisah putra Dawud yang durhaka sebagaimana cerita di atas sudah tentu tidak akan dijumpai dalam sumber-sumber Islam, baik Al Quran, hadits, maupun kitab klasik lainnya. Sebab cerita tersebut bersumber langsung dari kitab umat Nashrani yaitu Perjanjian Lama dalam kitab 2 Samuel pasal 15 sampai 18. Secara ringkas cerita dalam kitab 2 Samuel tersebut adalah Absalom, putra Raja Dawud, berniat menarik simpati rakyat dengan menangani perkara pengadilan di kerajaan ayahnya.[20] Hakikatnya, Absalom sedang mempersiapkan diri dan menghimpun kekuatan ntuk memberontak kepada sang Ayah. Maka sejumlah persepakatan gelap dibuat sehingga banyak rakyat memihak Absalom.[21] Mengetahui posisi politiknya kurang menguntungkan, maka Dawud kemudian meloloskan diri beserta pegawai dan keluarganya yang lain.[22] Pada giliran selanjutnya Dawud dapat memukul mundur tentara Absalom.[23] Absalom yang mengendarai bagal (binatang keturunan kuda dan keledai) berlari. Ketika melewati jalinan dahan pohon Tarbantin yang besar, kepala Absalom tersangkut, sedangkan bagal yang dikendarainya terus berlari.[24] Dengan demikian kisah dalam serat Darmagandul pada dasarnya merujuk langsung ke dalam Perjanjian Lama, kitab yang diakui oleh umat Kristen dan Yahudi sebagai kitab suci.
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan di atas maka identitas penulis dan masa penulisan buku Darmagandul dapat disimpulkan point-point sebagai berikut :
  1. Penulisan buku Darmagandul dilakukan pada masa penjajahan Belanda atau bahkan ada kemungkinan jauh setelahnya, mengingat telah ada bentuk pemahaman yang mendalam terhadap kitab Perjanjian Lama. Dengan asumsi bahwa penulis kitab Darmagandul merupakan orang Jawa, maka pada masa penulisannya seharusnya sudah ada terjemahan Bible dalam Bahasa Jawa atau bahasa lain yang mungkin dapat dipahami. Dengan demikian anggapan bahwa buku tersebut ditulis pada masa transisi antara keruntuhan majapahit dan berdirinya kerajaan Demak dengan sendirinya terbantahkan.
  2. Identitas penulis buku Darmagandul adalah orang Kristen atau setidaknya pernah mempelajari kekristenan. Jika bukan keduanya maka setidaknya penulis buku tersebut adalah penghayat sinkretisme agama atau bahkan seorang ‘perenialis pilih kasih” sebab menganggap semua agama sama baiknya, kecuali Islam. Namun demikian identitas penulis Darmagandul sebagai seorang yang terjangkiti Islamophobia sukar dibantah.
  3. Penulis buku Darmagandul bukan penganut agama Budha. Sebab telah gagal menjelaskan beberapa doktrin mendasar dalam ajaran Budha. Salah satu contohnya penulis buku Darmagandul mengadopsi konsep kedewaan[25] dalam doktrin agama Hindhu.
SEPUTAR KERUNTUHAN MAJAPAHIT
Buku Darmagandul menyebutkan bahwa keruntuhan Majapahit disebabkan semata-mata karena serangan dari kadipaten Demak di bawah pimpinan Adipati Jimbun Patah. Dengan sangat yakin penulis Darmagandul memaparkan hal tersebut sehingga boleh dikatakan bahwa buku tersebut menolak kemungkinan selain itu. Akan tetapi telah kita buktikan di atas bahwa buku Darmagandul tersebut bukan ditulis pada masa transisi antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak, sebagaimana anggapan sebagian kalangan. Maka sejumlah item yang dipaparkan oleh buku Darmagandul boleh diabaikan sebagai sumber sejarah, sebab bukan merupakan sumber utama sejarah yang terpercaya sekaligus dimuati sejumlah kepentingan dan motif tersembunyi. Namun demikian keruntuhan Majapahit patut mendapatkan porsi pembahasan tersendiri.
Berdasarkan kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke Indonesia pada tanggal 17 sampai 20 Maret 1963 di Medan, Islam telah masuk ke wilayah nusantara sejak Abad pertama hijriyah.[26] Bahkan upaya ekspedisi ke Nusantara telah dilakukan pada masa Abu Bakar Ash Shidiq dan dilanjutkan oleh khalifah-khalifah setelahnya.[27] Berdasarkan literature China menjelang seperempat Abad VII telah berdiri perkampungan Arab muslim dipesisir Sumatra. Sedangkan di Jawa Penguasa Kalingga yang bernama Ratu Shima telah mengadakan korespondensi dengan Muawiyah Bin Abu Sufyan,[28] salah seorang shahabat Nabi dan pendiri dinasti Umayyah.[29] Akan tetapi karena terpaut jarak yang jauh, maka dakwah di pulau Jawa berjalan secara lamban. Namun demikian secara jelas Islam telah disebarkan di Pulau Jawa jauh sebelum berdirinya kerajaan Majapahit. Dengan demikian anggapan penulis Darmagandul, bahwa Islam berkembang di tanah Jawa adalah semata-mata karena ‘kebaikan’ Prabu Brawijaya,[30] adalah tidak benar.
Pada masa kerajaan majapahit beberapa pelabuhan telah ramai dikunjungi oleh saudagar-saudagar asing. Guna kepentingan komunikasi dengan saudagar asing maka pemerintah kerajaan Majapahit mengangkat sejumlah pegawai muslim sebagai sebagai pegawai pelabuhan atau syahbandar.[31] Alasannya pegawai beragama Islam pada masa itu kebanyakan telah menguasai Bahasa asing terutama Bahasa Arab sehingga mampu berkomunikasi dan memberikan pelayanan kepada saudagar-saudagar asing yang kebanyakan beragama Islam.[32]
Sementara itu dakwah Islam telah menjangkau masuk ke dalam lingkungan istana Majapahit dan berpengaruh terhadap para bangsawan. Para bangsawan yang telah menganut agama Islam, umumnya pindah keluar istana menuju daerah pantai yang dikuasai oleh para bupati yang telah beragama Islam.[33] Alasannya adalah demi toleransi dan mendapatkan kemerdekaan beragama. Dengan semakin berkurangnya sejumlah bangsawan dilingkungan kerajaan dan didiringi dengan semakin banyaknya rakyat Majapahit yang memilih Islam maka bias dipastikan kerajaan tersebut menjadi semakin lemah.
Padahal, pada dasarnya Majapahit saat itu memang telah lemah secara politis akibat perang paregreg yang cukup lama dan menghabiskan banyak sumber daya. Perang tersebut merupakan perebutan tahta antara Suhita (putri dari Wikramawardana) dan Wirabumi (putra Hayam Wuruk). Pada tahun 1478 ini Dyah Kusuma Wardhani dan suaminya, Wikramawardhana, mengundurkan diri dari tahta Majapahit. Kemudian mereka digantikan oleh Suhita. Pada tahun 1479, Wirabumi, anak dari Hayam Wuruk, berusaha untuk menggulingkan kekuasaan sehingga pecah Perang Paregreg (1479-1484). Pemberontakan Wirabumi dapat dipadamkan namun karena hal itulah Majapahit menjadi lemah dan daerah-daerah kekuasaannya berusaha untuk memisahkan diri. Dengan demikian penyebab utama kemunduran Majapahit tersebut ditengarai disebabkan berbagai pemberontakan pasca pemerintahan Hayam Wuruk, melemahnya perekonomian, dan pengganti yang kurang cakap serta wibawa politik yang memudar.[34] Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling menyerang satu sama lain dan berebut mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syech Siti Jenar.[35] Sehingga dengan demikian keruntuhan Majapahit pada masa itu dapat dikatakan tinggal menunggu waktu sebab sistem dan pondasi kerajaan telah mengalami pengeroposan dari dalam.
Dengan demikian faktor penyebab melemahnya Majapahit juga disebabkan makin pudarnya popularitas kerajaan Hindhu tersebut di mata rakyat. Keberadaan Majapahit telah tertutupi dengan munculnya kerajaan Demak yang dianggap membawa angin dan perubahan baru. Selain itu Demak juga semakin menguat setelah bersekutu dengan Surapringga (Surabaya), Tuban, dan Madura,[36] dimana wilayah-wilayah tersebut sebelumnya merupakan daerah kekuasaan Majapahit. Dengan demikian tuduhan bahwa keruntuhan Majapahit akibat ‘digerogoti’ oleh ulama muslim dari dalam[37] dan semata-mata karena penyerangan kerajaan Demak terbukti tidak benar.

INTISARI TULISAN DALAM DARMAGANDUL
Buku Darmagandul berusaha menggambarkan bahwa pengajar Islam di Jawa yang disebut wali sanga merupakan sekumpulan ulama yang memiliki moralitas dan integritas pribadi yang buruk. Melalui cerita yang disampaikan dalam bentuk dialog, digambarkan bahwa sejumlah wali senantiasa kalah dalam sejumlah dialog. Sehingga mereka kemudian dicitrakan sebagai pihak yang tersalah dan bodoh.
Sebagai contoh dalam perdebatan antara Sunan Benang (Bonang) dengan Raja Jin yang bernama Buto Locaya. Sebelumnya Sunan Benang digambarkan sebagi pribadi yang sewenang-wenang dan tidak berfikir panjang dalam melakukan sebuah tindakan. Diceritakan bahwa Sunan Benang mengutuk sebuah desa sehingga aliran sungai berpindah ke tempat lain. Akibatnya tempat baru yang dialiri sungai tersebut terjadi banjir bandang. Maka dengan marah Raja Jin Buto Locaya kemudian berdebat dengan Sunan Benang. Dalam perdebatan Buto Locaya selalu digambarkan sebagai pihak yang menang secara argumentasi sedangkan Sunan Benang berada pada pihak yang dikalahkan. Jika diamati, argumentasi yang digunakan dalam berbagai dialog dan isi keseluruhan buku darmagandul, dibangun berdasarkan bentuk silogisme yang mentah akibat kesalahan pengambilan premis dan penyimpulannya. Sebagai contoh misalnya premis pertama menyatakan bahwa Islam berasal dari Mekah,[38] premis kedua adalah Mekah itu tanahnya panas, tidak ada tanaman yang mau tumbuh, hawanya panas dan jarang hujan,[39] kemudian kesimpulannya adalah jika orang Jawa meninggalkan ajaran lamanya dan melakukan konversi agama beralih kepada Islam, maka tanah Jawa akan menjadi langka pangan, berhawa panas, dan jarang hujan.[40] Demikian bentuk silogisme tersebut. Ditinjau dari segi manapun konklusi yang diambil dari kedua premis tersebut merupakan argument yang tidak logis dan sukar diterima akal sehat bahkan oleh akal sakit sekalipun.
Kemudian Sunan giri digambarkan sebagai juru tenung atau tukang sihir. Hal ini terlihat bahwa dalam salah satu bagian cerita Sunan Giri mengusulkan agar Prabu Brawijaya ditenung saja agar tidak merusak kondisi politik dan ketentaraan.[41] Kemudian pasca Raden patah berkuasa, tersebutlah Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga yang tidak mau tunduk kepada kesultanan Demak. Kedua adipati tersebut juga merupakan putra dari Prabu Barwijaya sebagaimana Raden Patah. Maka keduanya kemudian disingkirkan oleh Sunan Giri dengan jalan ditenung sampai mengalami kematian.[42]
Sedangkan Sunan Kalijaga digambarkan menyesali keadaan yang telah berjalan. Maka sebagai tanda penyesalannya, dia mengganti penampilannya berbeda dengan para wali yang lain. Yaitu menggunakan baju wulung dan bukannya baju surban sebagaimana umumnya para wali.[43] Bahkan sampai pada kesimpulan bahwa untuk mencari ilmu sejati tidak harus berguru kepada orang Arab (Islam maksudnya) namun cukup dengan mengeksporasi dirinya sendiri.
Ide ‘nyleneh’ bertebaran ditampilkan dalam kitab tersebut. Antara lain serat Darmagandul berusaha meyakinkan pembaca bahwa Latta dan Uzza, berhala yang disembah oleh kaum kafir Quraisy, seolah-olah merupakan manifestasi Tuhan. Hal ini dapat dilihat dalam penyebutan penyebutan nama ‘Hyang Latawalhujwa’ dibeberapa tempat.[44] Selain itu terdapat pernyataan bahwa kaum muslimin pada dasarnya bukan menyembah Tuhan namun menyembah tugu batu yang bernama Ka’bah. Pernyataan demikian seringkali ditemukan pada era saat ini. Biasanya lahir dari kekurangmengertian terhadap ajaran Islam. Dalam anggapan Darmagandul, ka’bah adalah buatan Nabi Ibrahim, seorang manusia. Lantas buku tersebut mempertanyakan mengapa orang Islam tidak menyembah batu-batu besar di Gunung Kelud saja, padahal batu gunung tersebut justru adalah ciptaan Tuhan.[45] Tentu saja persoalannya bukan siapa menciptakan apa dan konsekuensinya. Namun Ka’bah merupakan batu penjuru bagi umat Islam, lambang kesatuan Kiblat sekaligus menjadi bukti bahwa Islam merupakan ajaran Tauhid. Pembinaan terhadap Ka’bah, dalam doktrin Islam, mengacu pada pembinaan Baitul Makmur dimana atas perintah Allah para Malaikat melakukan Thawaf mengitarinya.[46] Pada hakikatnya bukan menyembah Ka’bah ataupun Baitul Makmur namun menyembah kepada Allah dengan mengikuti perintah dan tata cara penyembahan yang telah di atur oleh-Nya.
Lantas apakan gambaran tentang tentang para wali sebenarnya adalah demikian adanya ? Atau Apakah Serat Darmagandul merupakan sebuah kebenaran ? Sulit dipastikan, apalagi jika menggunakan serat Darmagandul sebagai sumber sejarahnya. Sebagaimana telah dibuktikan di atas Serat darmagandul bukan merupakan sumber utama sejarah sebab tidak ditulis pada masa peralihan antara kerajaan majapahit dan Kesultanan Demak sebagaimana anggapan orang. Kemudian banyak disisipi dengan berbagai motif dan kepentingan tersembunyi. Sedangkan puncak dari motif dan kepentingan dalam penulisan buku Darmagandul digambarkan sebagi suara kutukan roh Prabu Brawijaya terhadap Raden Patah sebagai berikut :
Entek katresnanku marang anak. Den enak mangan turu. Ana gajah digetak kaya kucing, sandyan matiya ing tata-kalaire, nanging lah eling-elingen ing besuk, yen wis ana agama kawruh, ing tembe bakal tak wales, tak ajar weruh ing nalar bener lan luput, pranatane mengku praja, mangan babi kaya dek jaman Majapahit.[47]
Maksud kutukan roh prabu Brawijaya tersebut suatu ketika, agama Islam akan dikalahkan oleh agama kawruh. Agama kawruh sebagaimana telah dijelaskan sebangun dengan pohon pengetahuan yaitu yang dimaksud adalah Agama atau ajaran Kristen. Dengan demikian seolah-olah kitab Darmagandul merupakan kitab Jawa yang seolah-olah menggambarkan dan memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan oleh agama Kristen yang salah satu cirinya adalah mengajar benar dan salah[48] serta memakan babi seperti umumnya orang Majapahit. Jelas umat Budha tidak semua makan daging. Demikian juga muslim tidak memakan daging babi. Dan hal ini merupakan bukti yang nyata bahwa buku Darmagandul sejak awal memang merupakan buku dimaksudkan dan dipersiapkan guna kepentingan misi penginjilan. Mengingat bahwa penyebaran ajaran Nashrani di Indonesia telah dilakukan semenjak penjajahan bangsa Eropa di bumi Nusantara yang dilakukan dengan kekerasan[49]. Hal itu mengingatkan kita bahwa penjajahan bangsa Barat terhadap dunia Timur selalu ditopang oleh slogan gold (kekayaan), glory (kekuasaan politik), dan gospel (penyebaran Injil).
PENUTUP
Berdasarkan uraian dalam makalah ini maka dapat dismpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Penulis buku Darmagandul adalah penganut agama Nashrani yang terobsesi dengan kegiatan missi atau setidaknya pernah berinteraksi secara intensif dengan Kitab Bible
2. Masa penulisan buku Darmagandul adalah pada saat penjajahan Belanda di bumi Nusantara atau bahkan pasca itu. Dengan demikian hal ini memabantah pendapat sebagian kalangan bahwa buku tersebut ditulis pada masa peralihan antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak.
3. Buku Darmagandul memiliki banyak kesalahan dari sisi sejarah dan miskonsepsi dalam sejumlah contentnya. Hal ini wajar sebagai bukti bahwa penulis Darmagandul bukan pelaku utama sejarah tersebut sehingga pada hakikatnya buku Darmagandul adalah sebuah buku fiksi.
4. Dengan demikian buku Darmagandul tidak dengan serta merta dapat digunakan dalam menggali sumber sejarah terkait keruntuhan Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak.
Wallahu a’lam

[1] Berdasarkan cerita oral, telah ada pendahulu kerajaan di Jawa seperti Medang Kamulan, Medang Pura, dan lain-lain.
[2] Sistem Kasta dalam Hindhu menunjuk hierarkhi manusia berdasarkan martabat dan keturunannya. Dalam Hindhu dikenal 4 macam kasta yaitu Brahmana, Satria, Waisya, dan Syudra.
[3] Rahmad Subagya. Agama Asli Indonesia. (Sinar Harapan, Jakarta, 1981). Hal. 237
[4] Noname. Darmagandul. Cetakan IV. (Sadu-Budi, Surakarta, 1959). Hal. 48
[5] Bahasa Jawa memiliki penggunaaan yang berbeda untuk masing-masing strata social. Berdasarkan strata social tersebut Bahasa Jawa dibagi menjadi tiga yaitu Bahasa Jawa Ngoko, Krama, dan Krama Inggil. Bahasa Ngoko digunakan untuk strata social masyarakat umum atau oleh seorang bangsawan dan orang terhormat kepada bawahannya. Bahasa Kromo dipakai oleh orang yang memiliki derajad dan status sosial sama namun telah akrab. Sedangkan Bahasa Krama Inggil digunakan oleh seorang yang memiliki derajad dan status social rendah terhadap orang yang memiliki derajad dan status social lebih tinggi dengan tujuan untuk menghormati.
[6] Secara harfiah kata kalamwadi artinya perkataan yang menjadi rahasia.
[7] Noname. Darmagandul. Ibid. Hal. 21. Tulisan tersebut dapat diartikan sebagai berikut : tentara Majapahit menembak (dengan senapan = ambedil), sedangkan tentara Giri berjatuhan mati akibat tidak kaut menghadapi melesatnya peluru.
[8] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 54. Artinya : Beragam sastra pemberian Gusti Allah wajib dimakan agar kaya dengan pengetahuan dan ingatan, orang yang tidak mengenal sastra pemberian Allah pasti tidak akan mengerti ilham. Auliya Gong Cu dengan congkak meniru sastra pemberian Gusti Allah, namun pembuatannya tidak bisa, sastra bunyinya kurang, jadi pelat, para Auliya pembuatan sastra ditentukan jumlahnya, namun aksara China banyak sekali jumlahnya, namun bunyinya pelat, sebab Auliya China terburu-buru memakan buah pohon pengetahuan, padahal juga harus memakan buah pohon Budi, Auliya tadi lupa bahwa dirinya tercipta sebagai manusia, maka karenanya memaksa menggunakan kekuasaan Yang Maha Kuasa, mengharap yang bukan wajibnya, terburu-buru menerima panglulu (pujian yang menjerumuskan) menggunakan sastra yang tidak terhitung jumlahnya, dinamakan sastra daun, daun dari buah pohon Budi dan pohon Pengetahuan, dipetik dari sedikit, ditata dan dikumpulkan, lantas dikarang untuk sastra, maka aksara China ribuan jumlahnya, Auliya China dikutuk, sebab berkemauan membuat sastra hidup seperti buatan Gusti Allah. Auliya Jawa memakan buah pohon Budi sampai kenyang, maka mengarang aksara yang tidak terlalu banyak namun sudah bisa mencukupi dan bunyinya tidak pelat. Auliya Belanda memakan buah pohon pengetahuan sampai kenyang juga, sedangkan jumlah aksara yang dikarangnya ditetapkan jumlahnya juga. Auliya Arab memakan buah pohon Kuldi banyak sekali. Sedangkan aksara yang digunakan juga ditentukan jumlahnya. Akan tetapi sastra buatan Gusti Allah, tercipta dari Sabda, maujud dengan sendirinya, maka bunyinya jelas, sastranya tidak ada yang sama.
[9] Selengkapnya baca T. Hadisoebroto. Aksara Djawa : Tatanan Panulise Basa Djawa sarta Latin. (Pantjawarna, Solo, 1959). Hal. 29
[10] Drs. Sentot D. Tj. Sejarah Nasional dan Dunia. (Prima Offset, Wonogiri, tth). Hal. 35
[11] Drs. Abu Ahmadi. Perbandingan Agama. Jilid I. Cetakan VII. (AB Sitti Syamsiyah, Surakarta, 1974). Hal. 48
[12] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 50. Artinya : Darmogandul berkata, meminta keterangan tentang Kisah Nabi Adam dan Ibu Hawa yang dikutuk oleh Tuhan, karena telah makan buah dari Kayu (pohon) Pengetahuan yang ditanam ditengah taman Firdaus. Ada kitab lain yang menerangkan bahwa yang dimakan oleh Nabi Adam dan Ibu Hawa adalah buah Kuldi, yang ditanam di surge. Maka mohon diterangkan, kalau dikitab Jawa bagaimana ceritanya, yang menyebutkan mengapa hanya Kitab Arab dan Kitab agama Nasrani.
[13] Kejadian 2:16. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974)
[14] Kejadian 2:17. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974)
[15] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 50. Artinya : Kalau Kitab Jawa Tidak menyebutkan demikian. Yang dimaksud adalah kitab Jawa tidak menyebutkan tentang Kisah Nabi Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan sebagaimana ajaran Kristen atau makan buah pohon Kuldi sebagaimana diklaim dalam Darmagandul sebagai ajaran Islam.
[16] Syaikh Ahmad Musthafa Al Maraghi. Tafsir Al Maraghi. Juz I. (Terj. Drs. M. Thalib). (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 88
[17] Penulis Darmogandul seolah-olah mendedikasikan kitabnya untuk membela agama Budha dan ajarannya. Namun dalam banyak kesempatan agaknya sang penulis Darmogandul kurang memahami ajaran Budha itu sendiri. Hal tersebut terlihat dari pemaknaan Pohon Bodhi, konsep kedewaan, dan beberapa konsep kehidupan lainnya yang justru berlawanan dengan doktrin pokok dalam ajaran Budha.
[18] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 48. Artinya : Yang dinamakan agama Nasrani artinya sarana berbakti : benar-benar berbakti kepada Tuhan, tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, Maka gelar Gusti Kanjeng Nabi Isa adalah Putra Allah, karena Allah yang mewujudkannya, demikian yang termaktub dalam kitab Ambiya.
[19] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 27. Artinya : cerita dari Mesir, Beliau Nabi Dawud, putranya bernafsu menggantikan kekuasaan sang ayah. Nabi Dawud sampai terdesak meloloskan diri keluar dari Negara, Anaknya tersebut kemudian menggantikan sebagai raja, tidak seberapa lama Nabi dawud kembali berhasil merebut negaranya. Anaknya melarikan diri dengan mengendarai kuda menuju ke hutan. Kuda tersebut berlari tanpa tentu arah tersangkut-sangkut kayu. Putra Nabi dawud kepalanya menyangkut di kayu sampai terpotong menggantung dikayu. Itulah yang dinamakan hukum Allah.
[20] Lihat 2 Samuel 15 : 6. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974)
[21] Lihat 2 Samuel 15: 12. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974)
[22] Lihat 2 Samuel 15 : 14-16. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974)
[23] Lihat 2 Samuel 18 : 7-8. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974)
[24] Lihat 2 Samuel 18 : 9-10. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974)
[25] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 52
[26] Panitia Seminar. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia. (Panitia Seminar, Medan, 1963). Hal. 265
[27] Herry Nurdi. Risalah Islam Nusantara. (Sabili Edisi Khusus : Sejarah Emas Muslim Indonesia, No. 9 Th. X, 2003). Hal. 9
[28] Prof. DR. Hamka. Sejarah Umat Islam. Cetakan V. (Pustaka Nasional Pte Ltd, Singapore, 2005).Hal. 671-672
[29] A. Latif Osman. Ringkasan Sejarah Islam. Cetakan XXIX. (Penerbit Widjaya, Jakarta, 1992). Hal. 77
[30] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 48
[31] Prof. Dr. Abubakar Aceh. Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawwuf. Cetakan IV. (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 370
[32] Prof. Dr. Abubakar Aceh. Sejarah Al Quran. Cetakan VI. (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 325
[33] Drs. Sentot D. Tj. Sejarah Nasional dan Dunia. (Prima Offset, Wonogiri, tth). Hal. 57
[34] H. Soekama Karya., et all. Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. (Logos, Jakarta, 1996). Hal. 364
[35] Syekh Siti Jenar merupakan tokoh kontrovesial yang eksistensinya sebagai sosok historis masih dipertanyakan. Namun demikian sejumlah pendapat menyatakan bahwa dia bertanggung jawab atas penyebaran ajaran syi’ah dan sekaligus paham wihdatul wujud di Pulau Jawa. Menurut salah satu sumber dia memiliki nama asli Syeh Jabaranta dan pernah tinggal lama di Persia. Lihat MB. Rahimsyah. Legenda dan Sejarah Lengkap Wali Songo. (Amanah, Surabaya,tth). Hal. 139
[36] Prof. Abu Bakar Aceh. Sejarah Al Quran. (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 234-235.
[37] Buku Darmagandul menggambarkan bahwa para ulama adalah seperti tikus yang merusak dari dalam. Mereka meminta jabatan kepada raja Majapahit dan pasca itu kemudian merusak kerajaan dari dalam. Lihat Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 46-47
[38] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 15
[39] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 15-16
[40] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 16
[41] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 29
[42] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 46
[43] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 49
[44] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 14, 37, 40, 31
[45] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 15
[46] Selengkapnya dapat dibaca Prof. Dr. H. Abubakar Aceh. Sejarah Ka’bah dan Manasik Haji. Cetakan IV. (Ramadhani, Surakarta, 1984). Hal. 49-50
[47] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 49. Artinya : telah sirna rasa cintaku keada anak. Sudah diberi kenikmatan makan tidur. Ada gajah digertak seperti kucing, walaupun mati dalam tata lahir, namun ingat-ingatlah suatu hari nanti, jika telah ada agama pengetahuan, maka akan akau balas, akan kuajarkan benar dan salah, peraturan tentang tatanegara, makan daging babi seperti jaman Majapahit.
[48] Lihat Kejadian 2:17 sebagai berikut : Alkitab Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974)tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”
[49] Lihat Kolonel Inf. R. Soegondo. Ilmu Bumi Militer Indonesia. Jilid II. (Pembimbing, Jakarta, 1954). Hal. 227

Penulis: Susiyanto (Mahasiswa Pasca Sarjana Peradaban Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Dipublikasikan ulang dari www.susiyanto.wordpress.com

Soal Kebenaran, Benarkah Relatif?

Soal Kebenaran, Benarkah Relatif?


Pluralisme agama adalah keyakinan penuh kontradiksi dan problematik, maka tidak selayaknya diyakini oleh orang yang masih mampu berpikir rasional


Oleh: Zarnuzi Ghufron*



SELAIN mengatakan bahwa tentang sesat yang tahu hanya Tuhan, kaum Islam liberal-pluralis juga mengatakan bahwa kebenaran adalah relatif. Dengan ini, seolah-olah mereka ingin menyimpulkan: bahwa manusia itu tidak bisa membedakan mana yang sesat dan mana yang benar, karena yang sesat tak dapat diketahui dan yang benar juga tak jelas yang mana. Akibat cara berpikirnya ini, maka tak aneh jika mereka tak pernah khawatir kalau berbuat salah.


Ada sebuah pertanyaan yang yang meski dijawab oleh mereka: jika Tuhan dengan tegas memerintahkan umat manusia untuk menghidari kesesatan karena akan dibalas neraka bagi pelakunya dan Tuhan juga memerintahkan untuk mengikuti kebenaran dengan balasan surga dan neraka bagi yang menolaknya, lalu bagaimana jika kesesatan dan kebenaran itu sendiri tidak bisa dimengerti dan diketahui oleh manusia. Dengan demikian, bagi Allah, perintah tersebut menjadi sia-sia, dan bagi manusia hal itu adalah tanggung jawab yang tidak akan sanggup mereka lakukan (taklif bima la yutoq), karena mereka diberi perintah dan akan diberi sanksi jika melanggar, tapi tak jelas isi perintahnya.


Jika sesat dan kebenaran tak jelas maksudnya, maka bagi manusia keduanya ibarat sebuah nama tanpa ada pemiliknya (al Ismu biduni al musamma) atau sifat tapi tak ada yang disifati (as sifat biduni al mausuf) atau lafadz tak bermakna.


Hal semacam ini sebenarnya bertentangan dengan pernyataan kaum liberal sendiri; bahwa lafadz adalah pertanda dari sebuah realitas atau ma'na dan realitas itu lebih dahulu ada dari lafadznya tsb.


Mencari Kebenaran


Faham relativisme kebenaran adalah bagian dari pluralisme agama yang mengatakan bahwa kebenaran pemahaman tentang Tuhan bagi setiap pemeluk agama adalah relatif, karena mereka sama-sama ingin mencari Tuhan, tapi Tuhan bersifat metafisik dan transendental, hingga akhirnya manusia menjadi beragam dalam memahami Tuhan yang absolut tersebut. Pemahaman manusia ini kemudian diwujudkan dengan nama-nama dan simbol-simbol yang saling berbeda antara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya.


Agama-agama, menurut Fritjhof Schuon, penggagas faham Kesatuan Transenden Agama-agama (transcendent unity of religions)  dibagi menjadi dua: tingkat eksoterik (lahiriyah) dan esoterik (batiniyah). Pada tingkat eksoterik agama-agama mempunyai Tuhan, teologi, ajaran yang berbeda. Namun pada tingkat esoterik agama-agama itu menyatu dan memiliki Tuhan yang sama yang abstrak dan tak terbatas.


Dari keterangan di atas dapat kita fahami bahwa kaum pluralis mengangap bahwa akidah semua agama adalah hasil karya manusia, dan pemahaman tentang Tuhan adalah hasil pencarian dan spekulasi manusia sendiri, tidak ada sumber dari Tuhan sendiri yang menjelaskan atau kalau boleh dikatakan manusialah yang menciptakan Tuhan-Tuhan mereka sendiri. Karena setiap agama membuat definisi sendiri-sendiri tentang siapa Tuhan, seperti apa sifat dan nama-Nya, sehinngga wajar jika hasilnya berbeda-beda.


Jika anggapan mereka demikian, maka teori pluralisme agama ini sebenarnya sudah dengan sendirinya tidak berlaku bagi agama Islam, karena asumsi kaum pluralis adalah bahwa pemahaman Tuhan oleh semua agama adalah hasil ciptaan manusia, dan asumsi tersebut  ternyata berbeda dengan kenyataan yang ada di dalam agama Islam. Pengetahuan umat Islam tentang Allah, dengan nama-nama-Nya dalam asmaul husna dan segala sifat-Nya adalah bersifat "tauqifiyah", yaitu dari Allah sendiri yang diperkenalkan ke manusia lewat wahyu yang Dia turunkan kepada para Nabi yang Dia utus, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Bukan ciptaan umat Islam atau Nabi itu sendiri, dan di dalam agama Islam tidak ada lahan spekulasi untuk berkata tentang Tuhan


Oleh karena itu, Allah swt. dalam Al-Quran mengatakan bahwa orang yang berkata tentang Tuhan tanpa ada landasan wahyu adalah orang yang berkata tentang Tuhan tanpa pengetahuan.


"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya (yang menjelaskan antara yang hak dan yang batil).” (QS, Al Hajj:08)

"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."
(QS, Al Baqoroh:169)


"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?."
(QS, Yunus:68)



Orang yang ingin memahami sesuatu tanpa didasari ilmu pengetahuan maka tiada cara kecuali dengan mengira-ngira, berhipotesa atau bersepekulasi, karena kalau sudah ada ilmu pengetahuan yang meyakinkan pasti tidak perlu bersepekulsi. Dan orang yang meyakini sesuatu dari hasil spekulasi maka sebenarnya dia telah meyakini sesuatu yang dia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan hal tersebut. Meyakini sesuatu yang tidak meyakinkan adalah keyakinan problematik, lalu kenapa diyakini?!


Dari masalah ini dapat kita metahui pula tentang pentingnya diuutusnya seorang Rasul sebagai penerima wahyu Tuhan. Keyakinan awal umat manusia adalah sama, bahwa alam dunia ini memiliki sang pencipta, yang menciptakan dan yang mengatur alam dunia ini atau mereka sebut Tuhan. Tapi, manusia tak bisa mengetahui secara pasti tentang siapa itu Tuhan, siapa nama-Nya dan bagaiman sifat-sifat-Nya. Akhirnya mereka saling berspekulasi tentang Tuhan. Dengan ini menjadi pentinglah diutusnya Rasul sebagai utusan Tuhan yang menujukan tentang siapa sebenarnya itu Tuhan, dan segala hal terkait dengan keberadaan-Nya agar manusia tidak terus-menerus bersepekulasi.


Selain itu para Rasul lewat wahyu memberi tahu umat manusia bahwa di balik alam nyata ini ternyata ada alam lain, alam yang sekarang tak mampu diketahui oleh panca indera, tapi hal itu ada dan ternyata mempunyai hubungan dengan manusia, yaitu alam ghaib, seperti malaikat, jin, syaitan, surga, neraka, surga, alam mahsar, hisab. Dari semua hal yang bersifat transendental dan metafisik tersebut semuanya tidak bisa diketahui kecuali dengan informasi yang dapat dipercaya(al khobar as shodiq), yaitu wahyu dari yang Maha Mengetahui (Allah swt.) yang diturunkan kepada orang yang jujur, terpercaya dan terjaga dari kesalahan, yaitu para Rasul. Jika tidak, maka tiada pilihan lain bagi manusia kecuali tidak mengakui adanya yang transenden dan metafisik tersebut atau mengakuinya tapi dengan jalan hipotesa atau spekulasi dan hal ini tidak meyakinkan karena hipotesa tidak bisa dipastikan kebenarannya.


Bukti Kebenaran


Telah kita kita ketahui sebelumnya bahwa pengetahuan umat Islam tentang Tuhan dan yang lain yang bersifat metafisik adalah dari al khobar as shodiq, karena manusia tidak bisa mengetahui secara langsung dengan panca indera. Dan di antara hal yang membuktikan bahwa isi khobar tersebut adalah benar-benar meyakinkan, di antaranya sebagai berikut:


  1. Khobar  tersebut. telah diterima dari sekian banyak Rasul yang dapat dipercaya, mulai dari Nabi Adam as. Sampai Nabi Muhammad saw. dan kondisi antar satu Nabi dengan Nabi yang lainnya adalah sangat plural baik dari segi masa, tempat atau negara, tabiat umat mereka, kondisi sosial dan budaya waktu itu, dan lain-lain. tapi khobar tersebut tetap sama isinya. Hal ini bisa terjadi karena yang menurunkan wahyu tersebut adalah satu (Allah swt.) dan yang menerima(para Rasul) orang yang jujur, dan isi sebuah berita, selama tetap asli, berita tersebut tidak terpengaruh oleh kondisi waktu, tempat, sosial, dan kultur sang penerima berita, dan juga bila ada sebuah berita yang dikabarkan kepada semisal "si A", kemudian diberitakan lagi yang lain semisal ke "si B", tapi isinya ternyata berbeda, berarti ada salah satu dari  keduanya yang dibohongi. Dan mustahil Allah swt berbohong kepada Rasulnya.
  2. Dan sangat mustahil seandainya setiap Nabi dan Rasul berspekulasi secara sendiri-sendiri, tapi mampu menghasilkan hasil spekulasi yang sama dari segala sisi dari masalah yang dispekulasikan.
  3. Masalah akidah adalah nauu' al khobar (jenis berita), oleh karena itu akidah para Nabi dan Rasul adalah sama. Berbeda dengan syari'at, syari'at adalah nuu' al insa (jenis pengadaan) sehingga bisa berbeda-beda, karena untuk mengatur kehidupan umat yang berbeda-beda.


Kesimpulan


Relativitas kebenaran pengetahuan tentang Tuhan oleh umat beragama hanya bisa terjadi bila seluruh umat beragama "tanpa terkecuali" memperoleh pengetahuan tersebut lewat akal budi mereka, dengan berhipotesa, spekulasi atau sejenisnya, tanpa ada wahyu yang dapat dijadikan petunjuk, hingga tidak bisa dipastikan mana yang benar dan mana yang salah, seperti yang dianggap kaum pluralis sendiri. Tapi, telah kita ketahui bahwa pengetahuan tentang yang transendental tersebut tidak dapat diketahui dengan benar kecuali dengan al khobar as shodiq dan sejak dahulu para Rasul telah menerima khobar tersebut.


Maka dengan ini, dari sekian banyak pengetahuan tentang Tuhan yang tadinya mungkin relatif, menjadi tidak relatif lagi, karena yang lain masih berhipotesa, dan belum bisa memastikan benar tidaknya dan al khobar as shodiq yang pasti benar telah memastikan hipotesa-hipotesa tersebut salah.


Dan  realitas yang ada bahwa dari sekian banyak pemahaman umat beragama tentang Tuhan semuanya saling kontradiksi, dan sifat di antara dua hal atau lebih yang saling kontradiksi adalah saling membatalkan di antara yang satu dengan yang lainnya, tidak bisa benar secara bersamaan. Dan al khobar as shodiq telah menunjukan mana yang benar.


Di dalam akidah Islam tidak ditemukan dan diterima keyakinan yang kontradiksi, karena hal itu tidak rasional. Pluralisme agama adalah keyakinan penuh kontradiksi dan problematik, maka tidak selayaknya diyakini oleh orang yang masih mampu berpikir rasional. Dan pernyataan kaum liberal/pluralis yang mengatakan bahwa akidah Islam terpengaruh sosial dan kultur waktu turunnya wahyu adalah pernyataan yang keluar karena tidak faham objek masalah.


Ingat! Kondisi sosial dan kultur antarsatu Nabi dengan yang lainnya adalah lebih plural dari kondisi sekarang, tapi kenapa tidak berpengaruh, hal ini yang harus mereka jawab. Dan seandainya mereka mengatakan bahwa relativitas kebenaran terletak pada pemahaman wahyu tersebut, bukan pada kebenaran wahyunya, maka dengan ini ilmu matematika bukan lagi ilmu pasti lagi bagi mereka, karena wahyu mengatakan Tuhan itu hanya satu. Jika pemahaman hanya satu masih relatif kebenarannya, maka satu tambah satu belum tentu dua, tapi masih relatif, mungkin dua, tiga, dan seterusnya.  Wallahu a'lam bisshowab.

*
)Penulis adalah mahasiswa Fakultas Syari'ah Univ. Al Ahgaff, Hadramaut, Yaman. Dan sekarang menjadi Ketua Forum Diskusi Mahasiswa Indonesia (FoKus-Indo)di Unv. Al Ahgoff
 

ya Allah kumohon kabulkan DO'A ku

ya Allah kumohon kabulkan DO'A ku