asmaul husna

Photobucket

Selasa, 06 April 2010

Dajjalisme dan Sepak Bola

Ahmad Thomson dalam bukunya “Sistem Dajjal” menyebutkan bahwa Dajjal akan muncul sebagai individu, sebagai gejala sosial budaya global dan sebagai kekuatan gaib yang tidak tampak. Dan saat ini yang baru muncul adalah fenomena yang terkait dengan tatanan sosial, budaya, politik, pendidikan, ekonomi, hukum dan moralitas yang mengalami kekacauan (chaos) akibat dari kekuatan atau ideologi yang tidak nampak tadi. Sedangkan Dajjal sebagai individu menurut Thomson memang saat ini belum nampak.

Namun yang harus digaris bawahi adalah bahwa dalam sistem Dajjal ini nilai-nilai yang ditawarkannya adalah seperangkat nilai yang paradoks dengan iman dan tauhid, semuanya berbasis syahwat, materi serta berusaha menggiring manusia kepada kekufuran, karena memang worldview dari sistem Dajjal ini adalah kekufuran sejati.

Lalu bagaimana relevansinya gerakan Dajjalisme ini dengan fenomena sepakbola diatas atau katakanlah dengan piala dunia yang sebentar lagi akan membuat gegap gempita setiap sudut bumi dari timur dan barat selatan maupun utara. Sejenak mari kita review kembali ingatan kita akan fenomena kerusakan moral dan sosial akibat gerakan Dajjalisme di lapangan hijau ini baik di tingkat dunia maupun lokal.

Mungkin masih hangat dalam ingatan kita bagaimana fatwa mufti Al-Azhar yang mengharamkan fanatik sepakbola terhadap para supporter mesir ternyata tidak mendapat tanggapan, yang terjadi malah sebaliknya para supporter fanatikus sepakbola dari negeri pyramida itu justru terlibat kerusuhan dengan sesama supporter al-jazair setelah pertandingan prakualifikasi piala dunia yang dimenangkan aljazair November 2009 lalu, ironis sepakbola rupanya lebih legit ketimbang fatwa sang mufti.

Kerusuhan antar supporter akibat fanatik sepakbola bukan hal yang aneh lagi dalam ingatan kita, Tragedi Heysel, Belgia, pada Piala Champions Eropa tahun 1985 memakan korban nan memilukan, disusul empat tahun kemudian meletus tragedi Hillsborough dikota Sheffield pendukung fanatik Liverpool meregang nyawa sia-sia lagi-lagi karena tumbal sepakbola. Kemudian mari kita tengok bumi pertiwi kita ini, fenomena kerusuhan Jakmania, The Viking, Bobotoh atau Bonek, Aremania, Hooligan Mania, ikut mewarnai kerusakan moral dan sosial akibat “agama baru” bernama sepakbola ini.

Kemudian mari kita jalan-jalan sejenak ke negara Jerman sana, ummat muslim Jerman menjadi saksi atas pelecehan terhadap Islam dan Rasulullah yang dilakukan oleh supporter klub Schalke lewat yel-yel lagu klub mereka, dimana dalam lagu tersebut tersembul bait yang menyebutkan “Muhammad adalah seorang Nabi yang tidak memahami sepakbola,, Namun dari semua warna yang ada Nabi memilih warna kebesaran Schalke, biru dan putih,” jelas hal tersebut merupakan penghinaan dan membuat muslim jerman marah..lagi-lagi logika sepak bola sudah menjadi “agama baru” bukan hanya sekedar olahraga bagi para fanatikusnya. Dalam piala dunia nanti entah mana lagi yang akan dijadikan tumbal fanatisme dan logika “agama baru” tersebut dan kita pun dipaksa untuk “mengimaninya”



Euforia Piala Dunia dan nasib Ummat Islam yang tertindas

Agaknya sentilan penuh canda yang cukup menohok dari seorang ustadz, beliau mengatakan bahwa saat piala dunia tengah berlangsung maka dapat dipastikan sebagian umat Islam akan rajin “qiyamulail” setiap malam, kiblatnya adalah televisi dan wiridnya adalah teriakan “Goaalllll…!!! Goaaallll..! atau mungkin wirid lain yang membuatnya lebih khusyu sampai matahari pagi tersenyum kepadanya.

Namun disaat yang sama dibelahan bumi Islam disana, Palestina, Irak, Afghanistan, Patani Thailand dan lainnya tengah berkecamuk mempertahankan akidah dan berlomba-lomba menjemput syahid fi sabilillah demi membeli syurganya Allah dengan tetesan darahnya. Mereka berjuang melawan kebiadaban tentara zionis, berhadapan dengan mortir mematikan yang siap menyalak setiap saat mengantarkan para mujahidin menuju syahid fi sabilillah. Sedangkan kita masih terlena dalam buaian Dajjalisme berselimut euphoria semu seraya berteriak dalam igauan mimpi..Goaaaalllllll…!!

Allahumma qad balaghta, Allahuma Fasyhad
Ya Allah sungguh aku telah menyampaikan, Ya Allah Maka saksikanlah.
Wallahu’alam

Allah SWT berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

Protokol Zionis Versi Rothchild mnyebutkan “Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan”

By:
Ruyatna Al-Bantany; Karyawan Swasta, Anggota Kajian Zionisme International (KaZI); Alumni SMUN 1 Jasinga - Bogor

RENUNGAN BUAT SANG SUAMI

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet.
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.
Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.
Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.
Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.
Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.
WallahuAlam.

Senin, 05 April 2010

Puisi Kematian Terindah untukmu, Saudaraku

Puisi Kematian Terindah untukmu, Saudaraku..

Saudaraku, ingatlah MATI
Sesungguhnya mati adalah janji yang ditepati
Tapi mengapa kau tak pernah peduli
Engkau lebih memilih dunia yang hina ini.

Dalam doa kau meminta khusnul Khotimah
Tapi pandanganmu akan dunia tak terarah
Kau masih mencari dunia yang belum terjamah
Sehingga lupa keinginanmu meraih Jannah.

Setiap nafsu yang kau hembuskan dalam hidupmu
Tak terpuaskan walau dua gunung emas mengelilingimu
Hingga kau tertidur dalam pelukan hangat istrimu
Dan kau terbuai dalam angan dan mimpi indahmu.

Gelap matamu akan nasib di akhirat nanti
Ketika ditanya apa yang kau kerjakan selama ini
Nanti kau akan ditanya sendiri-sendiri
Kau pun tidak akan dapat melarikan diri
Dari panas dan teriknya matahari
Dari dosa-dosa yang kau lakukan setiap hari.

Semoga medan jihad mengantarkan kematianku
Atau saat Sujud shalat aku menghadap Rabbku
Atau saat Hari Jum’at sebagai hari terakhirku
Atau saat amalan terbaikku,
Malaikat maut melepas jasadku.

Amin…

[hanif/punyatresna@gmail.com]

Tausiyah Abu Jibriel : "Jaddidu imanakum (Perbaharui Iman Kalian)"

Ahlu Sunnah Wal Jama’ah mengatakan bahwa: “Iman itu adalah Ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.” [Imam Al Bukhari]

Maka kemuliaan dan keterpujiaan seseorang berkaitan erat dengan kesungguhannya dalam menambah dan meningkatkan iman. Dan perkara yang paling berpotensi menambah dan menguatkan iman adalah ‘ILMU’, kemudian AMAL SHALEH dan ZIKRULLAH. Maka tiap kali seorang hamba menambah ilmu dan amal solehnya berarti dia sedang memperbaharui imannya dan inilah yang dimaksud oleh hadits Rasulullah Saw dalam sabdanya:

“Perbaharuilah iman kamu, beliau ditanya: “bagaimana kami memperbaharui iman kami, beliau menjawab: “perbanyaklah mengucapkan kalimat laa Ilaha Illallah. “ [HR. Ahmad : 8944 dan Al Hakim : 7766]

Allah Swt berfirman yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kamu dengan Allah dan Rasul Nya dan dengan kitab yang telah diturunkan kepadamu…….!” [QS. An Nisa' : 136]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Ayat ini tidak terkait dengan tahsil al hashil (yakin agar mereka beriman; karena mereka memang sudah ada pada orang-orang mukmin), tetapi terkait dengan takmil al kamil (yakin agar mereka mempunyai iman bertambah diatas yang sudah ada). Jadi dengan mudah dan sederhana hadits diatas menjadi tafsiran bagi ayat yang sedang dikaji ini.

Perbaharuan iman sangatlah penting bagi setiap muslim, apalagi para aktivis dakwah dan para Mujahid fiesabilillah. Sebabnya ialah kesibukan rutinitas, sering kali didapati kesibukan dalam menjalankan tugas-tugas dakwah, ditambah lagi kesibukan mencari nafkah atau mengurus rumah tangga, para aktivis dakwah dan mujahid tidak sempat lagi “megurusi” Qalbunya (hatinya). Tahu-tahu qolbunya sudah “hitam pekat”; dipenuhi dengan noda akibat dosa-dosa kecil ataupun berbagai kelalaian yang tidak terasa sering ia lakukan.

Dari Abu Hurairah Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya orang mukmin apabila melakukan suatu dosa terbentuklah bintik hitam didalam hatinya. Apabila ia bertaubat, kemudian menghentikan dosa-dosanya dan beristighfar bersihlah daripadanya bintik hitam itu. Dan apabila dia terus melakukan dosa bertambahlah bintik hitam pada hatinya sehingga tertutuplah seluruh hatinya, itulah karat yang disebut Allah didalam kitabnya: “sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang mereka usahakan telah menutup hati mereka.” [QS. Al Mutaffifin : 14]. [HR. Al Baihaqi]

Kata Imam al Ghazali, Qalbu itu ibarat cermin. Saat seseorang melakukan dosa/maksiat, maka ada satu nukhtoh hitam menodai Qalbunya. Semakin banyak dosa, semakin banyak nutoh itu menutupi Qalbunya. Jka sudah tertutupi banyak nukhtoh hitam, Qalbu yang ibarat cermin itu tidak bisa lagi digunakan untuk bercermin; untuk “mengaca diri” dan mengevaluasi diri. Saat demikian, kepekaan spiritual biasanya, akan lenyap dari dirinya. Jika sudah seprti itu, jangankan dosa kecil, apalagi sekadar berbuat makruh dan melakukan banyak hal mubah yang melalaikan, dosa besar sekalipun tidak lagi dianggap besar.

Jangankan meninggalkan hal sunnah, meninggalkan kewaibanpun sudah dianggap biasa. Pasalnya, kepekaan Qalbunya nyaris hilang; tidak lagi mampu mendeteksi dosa, apalagi dosa yang dianggap kecil.
Padahal, lihatlah kepekaan Abu Utsman An Naisaburi. Suatu saat, pernah sandalnya putus dalam perjalanannya untuk shalat jum’at dan ia butuh waktu satu jam untuk memperbaikinya. Lalu ia berkata, “Sandal ini putus mungkin karena aku tidak mandi hari jum’at.”

Seorang generasi salaf juga pernah berkata, “Aku pernah mengnggap sepele sesuap makanan (yang syubhat), lalu aku memakannya. Sekarang, aku seperti kembali ke empat puluh tahun yang lalu.”
Demikianlah. Maksiat itu tidak jarang melahirkan maksiat yang lain. Jika maksiat sering dikerjakan maka terjadilah akumulasi maksiat. Dosa-dosa kecilpun akhirnya menjadi besar.

Pengabaian perkara ini secara berturt-turut tanpa penanganan serius sering menjadikan aktivis dakwah dan jihad berkurang kadar “keimanan” dan amal-amal batiniyahnya, semisal ikhlas. Bahkan amaliah batin lainnya – seperti jujur, yakin, zuhud, tawakkal, takut, taubat, berserah diri dan cinta kepada Allah Swt - mungkin juga hilang dari dirinya. Semua itu sering terjadi karena ia mengabaikan Qalbunya dalam kondisi demikian, boleh jadi seorang aktivis dakwah menjadi hanya banyak berkata-kata yang tidak berguna, makan secara berlebihan, berinteraksi dengan orang lain bukan demi kemaslahatan dakwah dan jihad, banyak tidur dan bermalas-malasan, menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak ada faedahnya-meski pun mungkin tidak melakukan perkara yang haram atau makruh dan syubhat.

Akibat lanjutannya, nuansa spiritual hilang dari kehidupannya. Dakwahnya terjebak dalam rutinitas. Pengaruhnya tak lagi membekas. Kata-katanya kering dari nilai ruhaniyah. Retorikanya tak lagi menggugah, apalagi mendorong orang untuk segera menjemput hidayah dan bertaqorrub kepada Allah. Bahkan tidak jarang, ghirah dakwahnya menurun dan himmahnya pun tak lagi menyala-nyala; sedikit demi sedikit meredup hinga akhirnya padam.

Seorang aktivis dakwah yang mengalami hal-hal semacam itu tentu tidak boleh terlena dan berdiam diri. Ia harus segera bangkit dan memperbaharui imannya.

Banyak sarana yang bias digunakan untuk memperbaharui iman. Sekadar contoh; ziarah kubur; mengunjungi orang-orang shalih, orang-orang bertakwa, ulama terpercaya, para mujahid dan orang-orang ikhlas; membaca sekaligus menyilami sirah generasi salaf, para ahli ibadah, orang-orang zuhud, para mujahid, para pembela kebenaran, orang-orang sabar dan orang-orang bersyukur; meningkatkan porsi ibadah; menyendiri (ber-khalwat) setiap hari atau dari waktu kewaktu walaupun Cuma sebentar; memperbanyak khatam Al Qur’an, berdoa, qiyamullail, bersedekah lebih banyak dari pada sebelumnya; dsb.
Membaca biografi mujahid seperti Khalid bin al-Walid, misalnya, akan mampu membuat seorang aktivis dakwah meremehkan dunia, syahwat dan kenikmatannya yang bersifat sesaat; membuat dirinya selalu mencintai kematian, tentu di jalan kemuliaan.

Membaca biografi orang-orang zuhud dan shaleh akan menumbuhkan kezuhudan dan kesalihan dalam Qalbunya. Membaca biografi para ahli ibadah akan mampu mendidik jiwa untuk gemar melakukan qiyamullail, shaum sunnah, zikir, berdo’a, khusyuk dan menangis karena takut Allah Swt. Membaca biografi orang-orang yang gemar bertobat dapat menumbuhkan benih-benih tobat dalam Qalbunya; juga membuka kran-kran air mata penyesalan pada dirinya yang tadi tidak kenal menangis karena takut Allah Swt.

Saran lain untuk memperbaharui iman adalah menyendiri (ber-khalwat) dengan dirinya sendiri; di luar qiyamullail, zikir dan membaca Al Qur’an. Disebutkan dalam salah satu atsar bahwa orang berakal mempunyai empat waktu. Salah satunya ialah saat ia menyendiri. (khalwat).

Ber-khalwat sangat urgen bagi aktivis dakwah. Dengan ber-khalwat ia dapat ‘berduaan’ dengan Allah Swt, damai dan dekat dengan-Nya. Dengan ber-khalwat aktivis islam juga dapat mengevaluasi dirinya. Ketika ber-khalwat ia ingat akan dosa-dosa sekaligus menumpahkan air mata penyesalan dan tobat kepada-Nya; malu, cinta dan tunduk kepada kebesaran-Nya.

Semua upaya itu, insya Allah, akan mengembalikan kepekaan spiritual dalam diri seorang aktivis dakwah. Karena setiap waktu imannya adalah iman yang selalu baru; iman yang semakin menghujam dalam Qalbu.

Wama taufiqi illa billah.

Surat dari setan,iblis & sekutunya untuk mu..!!!

Surat dari setan,iblis & sekutunya untuk mu..!!
Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu.
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum memulai santapanmu, juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ketempat tidurmu
Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu.
Hai Bodoh, Kamu millikku.
Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama,
dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu .
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah.
Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah.
Dia sudah mencampakkan aku dari surga, dan aku akan tetap memanfaatkanmu sepanjang masa untuk mebalaskannya

Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan dia masih memiliki rencana-rencana untukmu dihari depan.
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku,
dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka.
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH

Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani

Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik, makan sekenyang-kenyangya , guyon2an jorok, bergosip, manghakimi orang, menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada orang tua ,
Tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk.
TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.
Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya.
Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita.
Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu.
Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu.
Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.
Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.
Kamu sudah belasan tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda.
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa.
Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin.
Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya.
Begitulah anak-anak .
Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.
Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi.
Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu.
Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit.
Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh.
Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu.
Hanya saja kau harus menjadi orng tolol yang lebih baik dimata ALLAH.

SAYA INI SEDANG FUTUR..

saya ini sedang futur
baca qur'an enggan, nonton tv doyan
baca qur'an nggak berkesan, nonton hollywood malah ketagihan
nonton bola pun ngga pernah keinggalan


saya ini sedang futur
jarang baca buku dan majalah islam
lagi demen baca komik
saya ini sedang kalah
perhatikan sikap saya
yang mudah menyerah dan putu asa
yang inisiatifnya lemah cuma bisa nunggu perintah
yang mudah marah belum bisa ramah
yang merasa tidak dibutuhkan karena kurang mendapat perhatian

saya ini sedang futur
hanya bisa berkata tanpa bisa membuktikan
hanya bisa berjanji tanpa usaha menepati
saya ini sedang futur
tak lagi pandai menjaga pandangan
sering curi-curi pandang
mudah terserang virus cinta
akhirnya melupakan hakikat cinta yang sebenarnya


saya ini sedang futur
walau takut azab, tak pernah sekali terisak
malah senangnya terbahak
saya ini sedang futur
malas berdoa
maunya pasrah tanpa usaha

saya ini sedang futur
tak lagi pandai bersyukur
sudah mulai tidak jujur
senang disanjung dikritik murung


saya ini sedang futur
malas ngurusin keluarga
rajin menggunjing keluarga
sedikit sekali muhasabah
senang sekali menggibah


YA ..... SAYA INI SEDANG FUTUR

YA ALLAH , DZAT YANG MAHA MEMBOLAK-BALIKAN HATI,
DAN PENGLIHATAN , TETAPKANLAH HATIKU DIATAS AGAMAMU
YA ALLAH, SESUNGGUHNYA AKU BERLINDUNG KEPADA-MU
DARI KELEMAHAN DAN KEMALASAN DARI SIKAP PENGECUT TUA RENTA DAN KIKIR.
YA ALLAH, AKU BERLINDUNG KEPADAMU DARI SIKSA KUBUR DAN DARI FITNAH
WAKTU HIDUP ATAUPUN KETIKA MATI

Sumber :Allamuddin Al Faruq (fb)

Jumat, 02 April 2010

MATA YANG SELAMAT...



Mata yang Selamat

Rasulullah SAW bersabda, ''Semua mata akan menangis pada hari kiamat, kecuali tiga mata.

Pertama, mata yang menangis kerana takut kepada Allah.

Kedua, mata yang dipalingkan dari apa apa
yang diharamkan Allah.

Ketiga, mata yang tidak tidur kerana mempertahankan agama Allah.''


Dalam suatu riwayat, ahli tasawuf bernama Fudhail bin Ayyadh, adalah seorang yang hanya mengejar-ngejar hawa nafsu dan berkelana di tempat-tempat maksiat hingga larut malam.

Suatu malam, ketika ia pulang dalam keadaan hoyong hayang , dia mendengar sayup-sayup seseorang membaca Alquran dari sebuah rumah.


''Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang
yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang
fasik.'' (QS al-Hadid (57): 16).


Sesampainya di rumah, ia mengulangi bacaan yang didengarnya itu. Tanpa terasa, air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Hatinya bergetar ketika mengingat perbuatan
maksiat yang pernah dilakukan. Akhirnya, ia kembali ke jalan yang benar karena takut kepada Allah SWT.


Berbahagialah orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesal dan matanya basah dengan air mata penyesalan.

Allah SWT Maha Pengampun atas dosa yang telah dilakukan hamba-
Nya. Mata seperti itu, insya Allah, termasuk mata yang tidak pernah menangis di hari kiamat.


Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang Allah SWT.


Nabi Yusuf menolak ajakan
Zulaikha untuk berbuat maksiat. Dengan keadaan/ kondisi dan kesempatan yang ada, Nabi Yusuf mampu mengalahkan hawa nafsunya.

Melihat keadaan/kondisi pada masa /saat ini, mata kita sentiasa tak lari dari hal-hal yang berbau
pornografi, baik melalui media cetak, elektronik, maupun kejadian sehari-hari. Dengan mudah siapa pun dapat melihat gambar-gambar yang membangkitkan syahwat.


Bahkan yang menyedihkan, hal itu menjadi kebiasaan dan dianggap wajar oleh sebahagian masyarakat. Mata yang tidak pernah menangis di hari kiamat adalah mata yang mampu berpaling dari yang dilarang Allah SWT, termasuk apa pun yang berbau pornografi.


Ketiga, mata yang tidak tidur kerana membela agama Allah SWT.

ya Allah kumohon kabulkan DO'A ku

ya Allah kumohon kabulkan DO'A ku