asmaul husna

Photobucket

Selasa, 30 Maret 2010

seorang akakek memanjat pohon kelapa


Tersebutlah seorang kakek memanjat pohon kelapa. Setelah sampai diatas, dia
memandang kebawah. Masya Allah, alangkah seramnya. Kalau sampai jatuh kebawah ,
sepertinya tipis harapan untuk selamat. Saking khawatirnya iapun berikrar :"Ya
Allah, kalau saja saya selamat sampai kebawah, saya akan bersedekah seekor
sapi."

Dia pun turun pelan-pelan merambat. Setelah turun agak lama, dia memandang lagi
kebawah. Masih seram ,tapi tidak separah tadi. Otak bisnisnya mulai bekerja.
Ngomong-ngomong, sapi kan mahal. Dia ingat, waktu Iedul Qurban, harga sapi bisa
7x lipat harga kambing, bahkan lebih. Maka ia pun meralat ikrarnya yang pertama
tadi. "Ya Allah, maksud saya sebenarnya bukan sapi, tetapi kambing. Saya
keseleo ngomong. Engkau kan Maha Tahu ya Allah, bahwa saya ini benar-benar
tulus."

Dia pun merambat lagi, turun pelan-pelan. Setelah beberapa lama, dia menengok
lagi ke bawah. Sama sekali belum aman, tapi takutnya tak separah yang tadi.
Sementara itu, otak bisnisnya mulai bekerja. Begitulah manusia,, dalam keadaan
kepepet saja masih main hitung-hitungan dengan Allah. "Ah, kambing juga mahal.
Siapa bilang kambing murah? Dulu saja ada yang sejuta, itu masih ukuran sedang,
bagaimana kalau yang agak besar, tentu lebih mahal lagi?" Kaki dan tangannya
terus memeluk pohon ittu erat-erat, tetapi kalkulatornya terus berjalan.

Dengan tidak malu-malu, untuk kesekian kalinya, ia meralat nadzar yang sudah
sempat terucap. "Ya Allah, lagi-lagi saya salah omong. Sebetulnya yang saya
maksud bukan kambing. Engkau kan Maha Penyayang dan Maha Memahami. Bukankah
manusia itu tempat-nya keliru dan lupa? Yang saya maksud sebetulnya adalah
ayam. Cuma mulut ini suka keceplos, Allah.

Demikianlah, semakin dekat dia kebawah, semakin cekatan dia membuat kalkulasi.
Intinya adalah, selamat sampai dibawah, tapi sekaligus uangnya aman.
Setelah kira-kira dua meter lagi sampai ketanah, sempat-sempatnya ia meralat
lagi. "Ya Allah, sekarang semua harga barang pada naik. Saya yakin, ya Allah,
Engkau tidak akan keberatan kalau ayam itu saya ganti telor. Bukankah yang
penting dalam hal ini adalah keikhlasan. Nah, kalau telor, saya bisa ikhlas ya
Allah. Kasihanilah hamba yang tak pandai berhitung ini."

apa yang terjadi selanjutnya? Dasar pelitnya 17 setan, kira-kira setengah meter
dari tanah, pegangannya dilepaskan. Maka jatuhlah ia bergedebuk. "Ya Allah,
tadi saya berjanji, kalau turun dengan selamat. Nyatanya saya akhirnya jatuh.
Berarti saya tidak perlu kan menyedekahkan telor?"

Demikianlah, dia pikir dengan cara begitu bisa mengakali Allah. Sebetulnya
bukan dia yang menang, tetapi dia adalah yang kalah. Bagi Allah, untuk
membalikkan situasi, itu sangat gampang.

Jangan terlalu berhitung dengan Allah. Nanti Allah juga akan berhitung-hitung
dengan kita. Kita lah yang butuh Allah, bukan Allah yang butuh kita.
Sejabodetabek orang tak mau shalat, tak mau zakat, Allah takkan rugi! Justru
kerugiannya akan kembali kepada kita sendiri.Bukankah sudah banyak contoh?
Tadinya kaya raya dan terpandang, setelah bangkrut, orang memandang sebelah
mata. Tadinya segar bugar, sehat, tak kurang suatu apa, tau-tau terbaring
sakit, kena stroke.


Written by : Ustad.Tarmizi Firdaus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ya Allah kumohon kabulkan DO'A ku

ya Allah kumohon kabulkan DO'A ku